Suatu hari teman saya tiba-tiba mengirim pesan dan bertanya tentang artikel ta'aruf yang pernah saya buat. Mau di tunjukkan pada teman sekantor katanya. Dia bilang, teman sekantornya ini sedang galau dan ragu untuk menempuh jalan ta'aruf. Dia bilang, teman kantornya ini mirip dengan saya dulu, seperti anak kecil  meski usianya sudah tua. Haha

Berkat dia, saya jadi membuka lagi artikel yang saya buat delapan tahun yang lalu. Saat membacanya, saya merasa asing, seperti sedang membaca isi hati orang lain. Beberapa detail kecil bahkan sudah saya lupakan. Endingnya saya dan suami bernostalgia tentang perasaan kami saat pertama kali menyerahkan proposal hingga lamaran. Di sinilah saya merasa, "Wah, ternyata sepenting ini menulis perjalanan diri".

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah delapan tahun lamanya saya hidup dengan orang yang awalnya sama sekali asing. Jadi bagaimana kehidupan pernikahan setelah ta'aruf? Apakah sesuai dengan ekspektasi?

Sebenarnya sulit digambarkan. Karena saya sudah sedikit lupa bagaimana cara kami menjalani hidup hingga saat ini. Haha. Tapi saya akan berusaha menggambarkannya.

Tahun Pertama

Masa pengantin baru masa penyesuaian, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan di tahun pertama pernikahan. Saya dan suami sempat LDM (Long Distance Marriage) selama 3 bulan, saya di Surabaya, suami di Malang. Selama itu saya mengurus surat pengunduran diri kepada instansi tempat saya bekerja.

Setiap weekend, saya pulang ke Malang. Biasanya laki-laki yang rela pulang pergi demi bekerja, tapi saya memutuskan agar saya saja yang bolak-balik Malang-Surabaya karena pada akhirnya kami akan tinggal di Malang.

Kami mengontrak sebuah rumah kecil di dalam perumahan di daerah kabupaten Malang. Setiap weekend saya pulang menaiki bus, dan dijemput di titik jemput oleh suami. Proses ini menjadi kenangan tersendiri bagi kami saat itu.

Oya, jika ada yang bertanya apakah kami sangat canggung saat baru menjadi pasangan? Jawabannya tidak. Suami saya juga heran dengan itu. Kami yang benar-benar asing ini, tiba-tiba hidup bersama, tapi tidak merasa asing sama sekali.

Malah kata suami, rasanya seperti sudah kenal lama. Padahal dia adalah tipe orang yang tidak pernah dekat dengan perempuan.

Perbedaan Gaya Hidup

Dua manusia yang dibesarkan di keluarga yang berbeda, jika disatukan tentunya akan mengalami yang namanya culture shock. Saya yang cenderung hemat, suami yang agak hedon.

Saya yang terbiasa makan dengan banyak lauk, suami dengan sedikit lauk. Suami yang bilang makan bakso itu sudah makan, saya yang bilang bakso hanya camilan. Dan masih banyak perbedaan lainnya. Kami banyak belajar dari perbedaan ini.


Penyesuaian

Setelah tiga bulan, saya akhirnya resmi resign dan tinggal satu atap bersama suami. Saya mengalami perasaan yang baru lagi, ternyata LDM dengan tinggal seatap itu beda rasanya. Seperti memulai penyesuaian dari nol lagi bersama suami. Mulai tau bagaimana sifat-sifat aslinya.

Kalau ditanya apakah sifat aslinya sama dengan yang digambarkan saat taaruf? Ya, sama. Bedanya ini lebih nyata aja. Misalkan, saat ta'aruf semua temannya mengatakan bahwa dia "Cuek", saat ditanya "kenapa kamu dibilang cuek?", Dia bilang, "Ya, aku gak tau cuekku di mana" begitu katanya.

Ternyata setelah hidup bersama baru terlihat "Cuek" nya secara nyata. Wah, challenge banget menghadapi sikap cueknya ini. Ditambah lagi dengan keadaan saya baru hamil anak pertama, dan baru penyesuaian dari wanita bekerja menjadi ibu rumah tangga yang di rumah saja.

Perasaan stress karena hormon kehamilan dan perubahan rutinitas, membuat saya sering menangis. Untungnya suami yang "cuek" ini "penuh kasih sayang", sehingga perlahan-lahan saya bisa menyesuaikan diri dengan baik.

Belajar Memasak

Demi Allah saya gak bisa masak! Setelah menikah, saya mencoba memasak untuk suami. Alhamdulillah suami saya sangat jujur, dia berkata "tidak enak" tanpa basa basi ketika hasil masakan saya tidak cocok di lidahnya (sarkas).

Ini menjadi salah satu kenyataan yang harus saya terima bahwa kehidupan pernikahan tak seindah dan seromantis cerita cinta dalam novel, atau di drama korea romantis.

Suami saya juga orang yang sangat cuek, tidak pandai berbasa basi dan tidak pandai membaca situasi. Maka di sini saya selalu muhasabah diri, dan menghilangkan bayangan-bayangan suami romantis yang meratukan istrinya.

Ketika menikah, saya mencoba mengenalinya lagi. Komunikasi demi komunikasi terjalin. Saya utarakan apa yang saya pikirkan dan apa yang saya rasakan.

Ternyata laki-laki yang saya nikahi ini pemikirannya sungguh sangat logis dan sangat minim menggunakan perasaan. Semua keputusan-keputusannya berdasarkan logika yang tak pernah saya pikirkan. Berbeda dengan saya yang penuh imajinasi, penuh perasaan dan spekulasi-spekulasi tentang hal yang belum pasti.

Tahun ke Lima adalah Tahun Paling Bucin

Setelah melewati tahun pertama, tahun berikutnya banyak hal yang kami alami. Mulai dari kelahiran anak pertama, permasalahan ekonomi, masalah pekerjaan hingga suami resign dan memutuskan berwirausaha.

Menginjak tahun ke lima, entah mengapa saya merasakan sangat-sangat jatuh cinta pada suami sendiri. Dilihat dari sisi manapun dia terlihat ganteng, keren, pokoknya artis tertampan mana pun lewat. Hahaha. Pokoknya di tahap ini tiada hari tanpa menatapnya seperti orang dimabuk cinta.

Tahun ke Tujuh Mulai Banyak Perdebatan

Tahun ke 7, entah karena sudah terlalu terbiasa, di tahun ini kami mulai banyak cekcok. Mulai mengungkapkan ketidak sukaan, ketidak setujuan atas harapan yang tak tercapai.

Kami mulai banyak deeptalk tentang-hal-hal kesalah pahaman ini. Mencoba mengerti satu sama lain. Ditambah lagi di tahun ini kami sama-sama sibuk mengurus bisnis kecil yang kami jalankan.

Meski begitu bukan berarti kami cekcok terus, justru rasanya kami seperti pasangan pada umumnya yang kadang ngambek-ngambekan, sering bercanda, dan tak jarang menunjukkan sisi romatis dengan cara masing-masing. 

Hingga saat ini di tahun ke 8, kami masih terus mecoba untuk saling mengenal satu sama lain. Kata-kata yang selalu saya pegang adalah, tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Kata-kata lain dari suami yang selalu saya pegang adalah, jangan menggunakan dalil yang diperuntukkan suami untuk menasihati atau menuntut suami, begitu pula sebaliknya. Pakailah dalil masing-masing untuk menasehati diri dan menuntut diri untuk berusaha sebaik mungkin untuk menjalankan peran masing-masing. Dengan demikian maka kita akan selalu saling menghargai dan menghormati.

Dah, itu saja cerita saya menikah after ta'aruf! Semoga ada manfaat yang bisa diambil ya!